Menulis draf jurnal ilmiah sering terasa menakutkan, terutama bagi mahasiswa atau peneliti pemula. Padahal, setiap artikel yang terbit di jurnal bereputasi pasti berawal dari draf yang tidak sempurna. Kuncinya bukan langsung sempurna, melainkan tahu urutan langkah yang benar. Artikel ini adalah seri pertama dari lima seri panduan menulis jurnal. Fokus kita kali ini: cara membuat draf jurnal secara bertahap, dari nol hingga menjadi naskah awal yang siap direvisi. Anda akan mendapatkan langkah praktis, checklist, dan tips menghindari kesalahan umum. Mari mulai.
1. Mengapa Draf Pertama Justru Harus “Berantakan”?
Banyak penulis menunda menulis karena ingin langsung menghasilkan naskah yang rapi. Padahal, draf pertama justru boleh dan sebaiknya belum sempurna. Tujuan draf awal adalah menuangkan semua ide, data, dan argumen ke dalam tulisan, bukan langsung memoles bahasa. Dengan menulis cepat dan bebas, Anda membangun “kerangka” yang nantinya mudah dirapikan.
Jadi, ubah pola pikir: draf pertama adalah alat berpikir, bukan produk akhir. Anda bisa menulis dengan gaya bahasa campuran, bahkan ada kalimat yang belum lengkap. Yang penting, semua substansi sudah tertuang. Setelah itu, barulah Anda masuk ke tahap revisi struktural dan bahasa.
2. Tiga Persiapan Sebelum Menulis Draf
Sebelum mengetik kalimat pertama, ada tiga hal yang perlu Anda siapkan. Ini akan menghemat waktu dan mencegah kebuntuan di tengah jalan.
2.1. Pilih Jurnal Target dan Formatnya
Tentukan sejak awal jurnal yang akan Anda tuju. Setiap jurnal memiliki panduan penulis (author guidelines) yang berbeda: gaya sitasi, struktur, batas kata, dan format abstrak. Dengan menyesuaikan sejak draf, Anda tidak perlu merombak total saat submit. Jika belum yakin, pilih 2–3 jurnal potensial lalu pelajari artikel terbaru mereka sebagai model.
2.2. Susun Kerangka (Outline) Sederhana
Kerangka tidak harus rumit. Cukup buat poin-poin utama per bagian: Pendahuluan, Metode, Hasil, Pembahasan, Kesimpulan. Di bawah setiap poin, tulis 3–5 sub-poin yang ingin Anda bahas. Kerangka ini menjadi peta jalan sehingga Anda tidak tersesat saat menulis.
2.3. Kumpulkan Data dan Referensi Kunci
Pastikan data penelitian sudah lengkap dan terorganisir. Siapkan juga referensi utama yang akan dikutip. Anda tidak perlu membaca semua referensi ulang; cukup buat catatan singkat tentang poin penting dari masing-masing sumber. Ini akan mempercepat proses penulisan dan mengurangi risiko lupa sumber.
3. Langkah-Langkah Menulis Draf per Bagian
Setelah persiapan matang, saatnya menulis. Urutan menulis tidak harus sama dengan urutan bagian dalam artikel. Banyak penulis justru memulai dari bagian yang paling mudah. Berikut urutan yang disarankan:
3.1. Mulai dari Metode
Bagian metode adalah yang paling “teknis” dan biasanya paling mudah ditulis karena Anda tinggal mendeskripsikan apa yang sudah dilakukan. Tulis secara kronologis: desain penelitian, populasi/sampel, instrumen, prosedur, dan analisis data. Gunakan kalimat pasif dan hindari detail yang tidak perlu. Jika ada istilah khusus, jelaskan secara singkat.
3.2. Lanjutkan ke Hasil
Bagian hasil hanya menyajikan temuan, tanpa interpretasi. Sajikan data dalam bentuk tabel, grafik, atau narasi yang jelas. Untuk setiap tabel/grafik, beri satu kalimat penjelasan yang menonjolkan temuan utama. Jangan menulis ulang semua angka di tabel; cukup soroti pola atau perbedaan yang signifikan.
3.3. Tulis Pendahuluan
Pendahuluan berfungsi menjawab pertanyaan: mengapa penelitian ini penting? Mulailah dari konteks umum, lalu persempit ke masalah spesifik, dan akhiri dengan tujuan penelitian. Pastikan Anda menyertakan riset terdahulu yang relevan dan menunjukkan celah (gap) yang Anda isi. Jangan lupa menyebutkan kontribusi atau kebaruan penelitian Anda.
3.4. Susun Pembahasan
Di bagian ini, Anda menghubungkan hasil dengan teori dan penelitian sebelumnya. Jelaskan mengapa hasil Anda bisa terjadi, apakah sesuai atau bertentangan dengan temuan lain, dan apa implikasinya. Gunakan referensi untuk memperkuat argumen, tetapi jangan terlalu banyak kutipan langsung. Fokus pada interpretasi Anda sendiri.
3.5. Akhiri dengan Kesimpulan
Kesimpulan harus ringkas dan menjawab tujuan penelitian. Jangan mengulang hasil secara panjang lebar. Cukup 3–4 paragraf: ringkasan temuan utama, implikasi praktis/teoretis, keterbatasan, dan saran untuk penelitian lanjutan. Pastikan tidak ada klaim yang melebihi data.
4. Checklist Draf Awal: Sudah Layakkah Direvisi?
Setelah selesai menulis semua bagian, jangan langsung mengirim ke jurnal. Beri jeda satu atau dua hari, lalu periksa dengan checklist berikut:
- Apakah semua bagian (IMRAD) sudah lengkap dan sesuai urutan?
- Apakah tujuan penelitian terjawab di hasil dan pembahasan?
- Apakah data yang disajikan akurat dan tidak ada yang hilang?
- Apakah sitasi dan daftar pustaka sudah sesuai gaya jurnal target?
- Apakah ada bagian yang terlalu panjang atau terlalu pendek?
- Apakah bahasa yang digunakan mudah dipahami dan tidak ambigu?
- Apakah ada istilah asing yang perlu didefinisikan?
- Apakah kesimpulan tidak melebihi data yang ada?
Jika semua jawaban “ya”, draf Anda sudah siap untuk masuk ke tahap revisi substansial dan penyuntingan bahasa. Jika masih ada “tidak”, tandai bagian yang perlu diperbaiki dan lanjutkan ke proses revisi.
5. Tips Menghindari Kesalahan Umum Saat Menulis Draf
Berikut beberapa tips praktis yang sering terlewat oleh penulis pemula:
- Jangan menulis abstrak di awal. Abstrak justru paling baik ditulis terakhir, setelah seluruh isi artikel selesai. Dengan begitu, abstrak benar-benar mencerminkan isi.
- Gunakan kalimat pendek dan langsung. Hindari kalimat berbelit-belit yang membuat pembaca kehilangan arah.
- Simpan semua data mentah. Saat menulis hasil, pastikan Anda bisa melacak kembali angka-angka yang disajikan. Ini penting untuk integritas akademik.
- Minta umpan balik awal. Sebelum submit, mintalah rekan atau dosen pembimbing membaca draf kasar. Mereka bisa menangkap kelemahan yang tidak Anda sadari.
- Jangan terpaku pada kesempurnaan bahasa di draf pertama. Fokus pada substansi, sisakan perbaikan bahasa untuk tahap berikutnya.
Penutup: Draf yang Baik adalah Awal yang Kuat
Membuat draf jurnal bukanlah proses linear yang harus sempurna sejak awal. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas—mulai dari persiapan, menulis per bagian, hingga memeriksa dengan checklist—Anda dapat menghasilkan draf yang solid dan siap direvisi. Ingat, setiap penulis hebat pernah melewati draf yang berantakan. Yang membedakan adalah kemauan untuk terus memperbaiki.
Pada seri berikutnya, kita akan membahas cara merevisi draf jurnal secara efektif, termasuk strategi menyunting struktur dan bahasa. Nantikan terus artikel selanjutnya. Jika Anda merasa panduan ini bermanfaat, bagikan kepada rekan yang sedang menyusun jurnal. Selamat menulis!